RIWAYAT PENDIDIKAN
Th 1984, saat usiaku menginjak 6th, akupun mulai bersekolah di SD Jatisari 02 Subah, dekat rumahku. Yaah, saat itu jarang sekali anak2 desaku yang mengenyam bangku TK. karena selain jaraknya yang agak jauh, kami memandang TK itu tidak perlu ....
Dan begitulah, di SD itu, seperti juga teman2ku yang laen, kami baru belajar tentang huruf, angka, berhitung, bernyanyi, ... standarlah ...
Melewati pematang2 sawah, kami (biasanya tak bersepatu, krn sepatu cuma dipakai di sekolah) selalu berangkat dengan riang gembira, meskipun hanya dengan membawa tas kresek untuk buku2, dan sepatu yang dijinjing ... (karena keterbatasan ekonomi, takut sepatu cepet rusak, hanya dipakai di kelas, berangkat dan pulang cukup dijinjing).
di kelas, aku termasuk anak yang pandai (di kelasku yang terdiri dari 16 - 20 anak). Aku cukup berprestasi di sekolah, sampai tingkat kecamatan dan kabupaten. Orangtuaku bangga akan hal itu, apalagi sebagai jebolan SD (tidak tamat), mereka sama sekali tidak pernah mendampingi nanak2nya belajar ...
Th 1990 setelah lulus dari SD, aku melanjutkan ke MTs Negri Subah. Orangtuaku menginginkan aku menjadi anak yang pandai dalam hal beragama. Namun keadaan ekonomi orantuaku saat itu memaksaku untuk sering absen. Ibuku, dengan 5 orang anak, sebagai pedagang ayam, dan ayahku yang tidak bekerja, merasa amat terbebani dengan biaya pendidikan yang sebenarnya tidak mahal itu. Karena sekolahku jauh dari rumah, aku butuh transportasi. Kadang2 aku hanya dikasih uang untuk transport saja, tidak untuk jajan. Kadang2 sisa uang jajan aku sisihkan untuk berangkat esok harinya. Hampir seminggu sekali atau dua kali aku tidak masuk.
Wali kelasku, Pak Muhdi datang ke rumahku dan menyanyakan kondisiku. Ibu bilang aku mau dikeluarkan saja, tapi pihak sekolah "nggondeli" karena aku berprestasi. Akhirnya akupun bisa menyelesaikan pendidikanku meski denga keterbatasan.
Tahun 1993, aku ingin sekali melanjutkan ke SMA seperti teman2ku, tapi apa daya, karena ketiadaan biaya akhirnya aku harus rela "dirumahkan".
Tahun 1995, Allah memberikan anugerah yang tiada tara. Burung walet yang menghuni rumahku menarik orang membeli rumahku dengan jumlah yang fantastis. Ekonomi keluargaku berubah, tp saat itu aku masih jadi pengangguran.
Suatu hari aku berkunjung ke MTsku yang dulu. Aku bertemu Bu Idah. Dia menyakan kemana aku melanjutkan studi. Aku bilang tidak sekolah. Spontan aku bertanya "kalau sudah lulus 2 tahun boleh sekolah lagi, bu?" . "oh, boleh saja, ayo daftar"
Sampai di rumah, pertanyaanku yang spontan itu kupikir2 terus dan selalu terngiang - ngiang di telingaku. Sampai muncul suatu tekad, aku harus sekolah!
Saat kusampaikan pada orangtua, mereka awalnya menyangsikan tekadku itu. Tapi dengan berani kukatakan pada ayahku, "Catat saja biaya sekolahku, kalau sampai terima raport nanti aku nggak bisa masuk 10 besar, aku akan keluar, kerja, dan kukembalikan semua biaya". Nekat sekali memang.
Sengaja aku mendaftar di MAN 3 Pekalongan yang saat itu masih bernama MAN 1 Pekalongan, karena disana selain tempatnya jauh, juga sedikit saja teman2ku dan adik kelas yang bersekolah disana.
Mulanya aku merasa kesulitan mengikuti pelajaran, karen sudah 2 tahun tidak belajar, ditambah sedikit keki karena harus sekelas dengan beberapa adik kelasku di MTs. Hanya pelajaran2 tertentu yang aku sukai saat di MTs, seperti Bahasa Inggris, bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Agama, Sejarah. untuk grup2 mafia (matematika, fisika, kimia), huh ampun....
Tak berapa lama aku sudah bisa menyesuaiakan diri. Alhamdulillah, raport pertama aku mendapat rangking 2. Inilah yang aku bangga2kan pada orang2 yang mengejekku, yang mengatakan aku bersekolah hanya untuk ... (ah nggak usah dibahas aja).
Tahun 2002, begitu menyelesaikan studi di MAN 3 Pekalongan, aku hijrah ke Semarang, menuntut ilmu di IKIP PGRI Semarang. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggrislah yang aku pilih, sesuai minat dan kemampuanku.
Sesuai target, aku lulus setelah menyelesaikan 8 semester. meski cuma dapat IPK 3,18 aku sudah bersyukur, setidaknya itulah hasil termaksimal yang dapat kucapai, sehingga aku mendapat gelar S. Pd