Senin, 11 Oktober 2010

RIWAYAT PENDIDIKAN

Th 1984, saat usiaku menginjak 6th, akupun mulai bersekolah di SD Jatisari 02 Subah, dekat rumahku. Yaah, saat itu jarang sekali anak2 desaku yang mengenyam bangku TK. karena selain jaraknya yang agak jauh, kami memandang TK itu tidak perlu ....
Dan begitulah, di SD itu, seperti juga teman2ku yang laen, kami baru belajar tentang huruf, angka, berhitung, bernyanyi, ... standarlah ...
Melewati pematang2 sawah, kami (biasanya tak bersepatu, krn sepatu cuma dipakai di sekolah) selalu berangkat dengan riang gembira, meskipun hanya dengan membawa tas kresek untuk buku2, dan sepatu yang dijinjing ... (karena keterbatasan ekonomi, takut sepatu cepet rusak, hanya dipakai di kelas, berangkat dan pulang cukup dijinjing).
di kelas, aku termasuk anak yang pandai (di kelasku yang terdiri dari 16 - 20 anak). Aku cukup berprestasi di sekolah, sampai tingkat kecamatan dan kabupaten. Orangtuaku bangga akan hal itu, apalagi sebagai jebolan SD (tidak tamat), mereka sama sekali tidak pernah mendampingi nanak2nya belajar ...
Th 1990 setelah lulus dari SD, aku melanjutkan ke MTs Negri Subah. Orangtuaku menginginkan aku menjadi anak yang pandai dalam hal beragama. Namun keadaan ekonomi orantuaku saat itu memaksaku untuk sering absen. Ibuku, dengan 5 orang anak, sebagai pedagang ayam, dan ayahku yang tidak bekerja, merasa amat terbebani dengan biaya pendidikan yang sebenarnya tidak mahal itu. Karena sekolahku jauh dari rumah, aku butuh transportasi. Kadang2 aku hanya dikasih uang untuk transport saja, tidak untuk jajan. Kadang2 sisa uang jajan aku sisihkan untuk berangkat esok harinya. Hampir seminggu sekali atau dua kali aku tidak masuk.
Wali kelasku, Pak Muhdi datang ke rumahku dan menyanyakan kondisiku. Ibu bilang aku mau dikeluarkan saja, tapi pihak sekolah "nggondeli" karena aku berprestasi. Akhirnya akupun bisa menyelesaikan pendidikanku meski denga keterbatasan.
Tahun 1993, aku ingin sekali melanjutkan ke SMA seperti teman2ku, tapi apa daya, karena ketiadaan biaya akhirnya aku harus rela "dirumahkan".
Tahun 1995, Allah memberikan anugerah yang tiada tara. Burung walet yang menghuni rumahku menarik orang membeli rumahku dengan jumlah yang fantastis. Ekonomi keluargaku berubah, tp saat itu aku masih jadi pengangguran.
Suatu hari aku berkunjung ke MTsku yang dulu. Aku bertemu Bu Idah. Dia menyakan kemana aku melanjutkan studi. Aku bilang tidak sekolah. Spontan aku bertanya "kalau sudah lulus 2 tahun boleh sekolah lagi, bu?" . "oh, boleh saja, ayo daftar"
Sampai di rumah, pertanyaanku yang spontan itu kupikir2 terus dan selalu terngiang - ngiang di telingaku. Sampai muncul suatu tekad, aku harus sekolah!
Saat kusampaikan pada orangtua, mereka awalnya menyangsikan tekadku itu. Tapi dengan berani kukatakan pada ayahku, "Catat saja biaya sekolahku, kalau sampai terima raport nanti aku nggak bisa masuk 10 besar, aku akan keluar, kerja, dan kukembalikan semua biaya". Nekat sekali memang.
Sengaja aku mendaftar di MAN 3 Pekalongan yang saat itu masih bernama MAN 1 Pekalongan, karena disana selain tempatnya jauh, juga sedikit saja teman2ku dan adik kelas yang bersekolah disana.
Mulanya aku merasa kesulitan mengikuti pelajaran, karen sudah 2 tahun tidak belajar, ditambah sedikit keki karena harus sekelas dengan beberapa adik kelasku di MTs. Hanya pelajaran2 tertentu yang aku sukai saat di MTs, seperti Bahasa Inggris, bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Agama, Sejarah. untuk grup2 mafia (matematika, fisika, kimia), huh ampun....
Tak berapa lama aku sudah bisa menyesuaiakan diri. Alhamdulillah, raport pertama aku mendapat rangking 2. Inilah yang aku bangga2kan pada orang2 yang mengejekku, yang mengatakan aku bersekolah hanya untuk ... (ah nggak usah dibahas aja).
Tahun 2002, begitu menyelesaikan studi di MAN 3 Pekalongan, aku hijrah ke Semarang, menuntut ilmu di IKIP PGRI Semarang. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggrislah yang aku pilih, sesuai minat dan kemampuanku.
Sesuai target, aku lulus setelah menyelesaikan 8 semester. meski cuma dapat IPK 3,18 aku sudah bersyukur, setidaknya itulah hasil termaksimal yang dapat kucapai, sehingga aku mendapat gelar S. Pd

Selasa, 05 Oktober 2010

Masa kanak kanak

sbg anak desa sejati, aku bersama teman2 dan saudara2ku bermain ala anak desa. hm... main raja rajanan, mbuat mahkota dari daun nangka, mobil2an dari kulit jeruk Bali, tembak2an dari tangkai daun pepaya, ada jg yang dari bambu, pelurunya buah ciplukan ....
Pagi2 sudah lari2 ke sawah, melewati pematang sawah dengan riang gembira. Kalau musim pra tanam, cari belut. Huh seru!!! kadang cuma dapat 1 tp lumpurnya alamak ... dijamin makku marah marah... tau gak, si belut cuma dibakar di atas tumpukan daun kering, dan langsung hap hap!!! abunya ikut kemakan! tp heran yah, makan cara gitu kok aku jarang sakit ...
Habis makan nyebur ke sungai, berenang di antara ibu2 yang sedang mencuci pakaian, mandi, bahkan ada yang lagi BAB!!! huft...
Biasanya habis berenang jadi lapar, terus... bisa ditebak, kamipun "bergerilya" ke ladang tetangga, mencari ketela kecil2 (dikampungku disebut siwil), dimakan mentah2 loh... apa enak? gak tau ya, pada masa itu semua terasa enak aja...
Nyari jangkrik!!! itu kegiatanku yang lain. Desaku waktu itu masih banyak sampah terhampar (sekarang sudah banyak dijadikan rumah dan tempt usaha). Aku dan bolang2 yang lain menyusuri pematang sawah pasca panen, mengkorek korek lobang2 kecil, biasanya disitu ada beberapa ekor jangkrik. Jangkrik2 yang berhasil ditangkap lalu dimasukkan ke kandang buatanku sendiri. Dan, tau buat apa jangkrik2 itu? diadu! Astaghfirullahal adziem... menyesal aku kalau ingat aku, Ya Allah ampunilah aku... waktu itu aku belum tau kalau ngadu jangkrik adalah perbuatan dosa ....

Sejarah Kelahiranku

32 th yg lalu, 24 Pebruari 1978, makku Ibu Turuti merasakan perutnya mules, pdhl beliau ingin buang air kecil, eh, yg nongol aku ... Segeralah bapakku Pak Pujo menggendongku dan menyerukan adzan di telingaku... Jadi aku lahir tanpa bantuan siapapun, bidan ataupun tetangga, makku berjuang sendiri dengan bantuan Allah saja... sedih ...
Oh ya, kampungku berjudul Ngepos, terletak di desa Jatisari kec Subah kab Batang, di daerah pantura. Yup, akses utama Jakarta - surabaya... dan dikelilingi oleh hutan jati. Mohon dimaklumi kalau aku tumbuh jd anak yang suka berpetualang di hutan. Sayangnya jaman dulu belum ada film si Bolang, kalau ada pasti aku dan teman2ku udah dishooting ...

Selasa, 24 November 2009